Hotspot Cwimie Malang di Pamulang

Terus terang, kami hadirkan Free Hotspot di Cwimie Malang di Pamulang, karena kami telah terinspirasi dari warung-warung kecil di Kota Yogyakarta yang telah ada Free Hotspotnya.

Hal ini kami lakukan karena mengingat kebutuhan internet yang dirasa makin lama makin tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Dari situlah kita bisa tahu segala informasi dari seluruh dunia. Dan tentu saja target kami adalah kenyamanan dan kepuasan pelanggan dengan tidak perlu tergesa-gesa untuk meninggalkan warung kami tercinta.

Untuk itulah, kami ada. Selamat berselancar dan menikmati menu-menu kami.

Add comment 16 Februari 2009

Cwimie Malang #2

Alhamdulillah. Dengan susah payah, meskipun hanya kecil-kecilan, kami telah bisa membuat satu lagi cabang Cwimie Malang di Alfa Foodcourt, Depan RS Putra Dalima, Rawabuntu BSD.

Karena di foodcourt, maka kami tidak bisa menjual aneka makanan seperti yang ada di Cwimie Malang ‘Tugu’ Pamulang. Di BSD, kami sengaja mengkhususkan pada Cwimie Malang.

Oleh karena itu, bagi anda sekalian semua yang kebetulan di dekat cwimie #2 atau mungkin di dekat Cwimie #1, mohon sudilah kiranya untuk mampir sebentar untuk mencoba menu-menu kami yang tersaji.

Terima kasih.

Add comment 16 Februari 2009

SELAMAT HARI RAYA NATAL DAN TAHUN BARU 2009

SELAMAT HARI RAYA NATAL DAN TAHUN BARU 2009

Add comment 24 Desember 2008

Akhirnya Bisa Nulis Lagi

Akhirnya………………..

Setelah sekian lama nggak aktif (hampir 4 bulan), hari ini bisa juga nulis di blog tercinta.

Di hari ke 19 Ramadhan, semoga kita masih diberi kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan tahun ini. Setengah bulan berlalu, apakah keimanan kita semakin bertambah? semakin berkurang? ataukah masih sama seperti kemarin?

Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Sudahkah kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan kali ini dengan ikhlas, penuh kesabaran dan tawakal? Hendaknya kita tidak usah mengoreksi ibadah teman, saudara, atau orang-orang sekitar kita. Marilah kita introspeksi diri, melihat kepada diri kita sendiri, sudah benarkah kita?

Di bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, di saat kondisi ekonomi dan politik bangsa kita yang semakin hari semakin mengecewakan, kita hendaknya banyak mengambil hikmah dari apa-apa yang selama ini telah kita jalani. Dengan mengambil sisi positif suatu masalah, kita bisa belajar lebih banyak tentang segala hal, bukankah “pengalaman adalah guru yang paling berharga” ?

Di kesempatan ini pula kami keluarga besar Pangsit Cwimie “TUGU” Malang mengucapkan :

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir Batin

Jakarta, 19 September 2008

3 comments 19 September 2008

STIKER-STIKER TELAH MENEMPEL DI KEPALA KITA

Sudah tidak asing lagi bagi mata kita terutama bagi para pemakai jalan, stiker yang sengaja dipasang di setiap bagian belakang ekor motor atau bagian belakang mobil. “lo senggol, lo benjol”; “lo asyik gue santai, lo usik gue bantai”; “motor lo jelek, bagusan motor gue”; “yang di belakang kaya (gambar monyet)”; “apa lo liat, ntar lo embat”, dan lainnya masih banyak lagi.

Saya selalu heran dan sempat berpikir, siapa orangnya dibalik produksi stiker seperti ini. Tapi buru-buru saya ralat, bisa jadi yang beli stiker ini yang salah atau ada pihak lain?

Problematika hidup yang makin lama makin ruwet dengan tidak sadar telah memaksa kita mencari jalan ‘aman’ dan yakin bahwa urusan pribadi adalah mendesak. Ditambah pula dengan ketidakpercayaan terhadap pembuat kebijakan, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa pembuat kebijakan tidak ada yang memihak rakyat banyak. Kebijakan BLT, kenaikan BBM, busway, sampai gembok mobil yang parkir sembarangan.

Rakyat telah apatis, egois, tidak mau bilang orang lain benar, stres terhadap kondisi sulit, menjadi brutal, sinis, gampang ‘muak’. Ataukah rakyat dendam? Tapi dendam dengan siapa?

Dan kemunculan stiker itu adalah simbol atau ungkapan ekspresi kekecewaan dan kesulitan. Bisa jadi sudah memenuhi kepala semua orang termasuk orang-orang yang hilir mudik di jalan. Sementara itu hidup harus dijalani.

Sementara itu ada stiker lebih parah yang pernah saya baca menempel di motor sewaktu saya naik motor di Tanah Abang, “Ya Allah cabutlah nyawa yang baca ini”. Astaghfirullah hal’adzim.

Jakarta, 8 Juni 2008

Add comment 9 Juni 2008

TELEVISI: PENJAJAH MODERN

Pada era tahun 80an, masih teringat di memori kita, betapa susahnya mau menonton televisi. Tidak semua orang punya televisi, apalagi di sebuah kampung kecil yang jauh dari kota. Televisi masih dikatakan menjadi simbol orang mapan. Kalaupun sudah didapat, paling-paling hanya TVRI, tidak ada channel lain. Dan menginjak tahun 90an, televisi swasta mulai bermunculan. Entah ini bisa dikatakan sebagai tanda bahwa ekonomi sudah berkembang ataukah memang semata alami bahwa kita sudah mulai masuk dalam lingkaran liberalisme & kapitalis.

Dan mulai dari sinilah, secara tidak sadar kita mulai menjalani budaya ‘aneh’ (kalau tidak mau disebut budaya asing). Pelan-pelan, kita menjadi egois, gotong royong luntur, tegur sapa antar kita jarang. Kita seperti badut, yang gampang gonta-ganti baju tapi bukan baju kita sendiri. Bagi orang desa, ibarat naik tangga, dari tangga satu mestinya naik tangga dua, tidak langsung tangga lima. Ini salah besar. Lompatan budaya telah terjadi. Orang desa yang biasa memakai kain ‘kemben’ atau baju panjang, tiba-tiba harus disuruh memakai baju ketat ‘pusar kelihatan’. Orang-orang biasa ‘nerimo ing pandum’ tiba-tiba diajari taktik dan intrik meski dalam keluarga sendiri.

“Televisi lebih kejam daripada penjajah”. Barangkali itulah kalimat yang pantas dari artikel kecil ini, dan sekaligus menggarisbawahi fenomena televisi yang semakin lama membenamkan kita secara tidak sadar pada pola hidup yang ‘ngambang’ dan tidak punya eksistensi.

Televisi telah menjadi doktrin yang secara tidak sengaja nyangkut di alam bawah sadar kita dan membentuk pola fikir kita menjadi tidak sabar, egois, matrialis, ekstrim, kriminal, dan seterusnya. Televisi telah menciptakan parameter norma dan etika sendiri, tidak berdasarkan norma budaya timur seperti waktu kita masih kecil dulu. Televisi telah menjadi doktrin yang berbahaya dan kejam melebihi jaman penjajahan dulu. Kejam menghajar pikiran dan hati kita, dan lebih kejam daripada muka berdarah-darah yang dihantam popor senapan Belanda.

Untuk masa sekarang ini, peranan televisi di masyarakat sesungguhnya bisa dibilang kurang. Apalagi yang menyangkut sebagai alat perekat bangsa, bicara nasionalisme, peduli anak bangsa, dan seterusnya. Kita mestinya prihatin.

‘Okelah’ yang menentukan kebijakan itu adalah ‘permainan cantik’ pemerintah dan pemodal, dan kita jelas tidak bisa mencegah jika mereka salah, tapi keputusan mestinya tetap pada pihak kita, kita yang harus menyaring media itu.

Bagaimana kita? (apa kita kalah dengan produser sinetron yang banyak orang India itu?)

Jakarta, 8 Juni 2008

2 comments 9 Juni 2008

Tak Kenal Maka Tak Sayang………..

Tak Kenal Maka Tak Sayang, pepatah itu rasanya pas buat kami yang baru saja mengenalkan warung Pangsit Cwimie Tugu. Kami ingin mengenalkan lebih jauh warung kami yang terletak di daerah Pamulang, tepatnya di Jl. Setiabudi (dekat pintu masuk perumahan MA) Pamulang, khususnya mengenalkan diri kami sebagai pemilik sekaligus pengelola warung tersebut.

Seperti yang telah diuraikan di pengantar, warung kami berdiri 14 April 2008. Dengan modal nekat ala Jawa Timur-an kami membuka usaha ini dengan harapan akan menjadi besar, memberikan banyak peluang kerja dan yang terpenting bekal buat anak cucu kami kelak.

Kami adalah sepasang Suami Istri dari Jawa Timur, saya Hudiono, lahir dan besar di Lamongan dan menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Jember. Istri saya, Sapta Juliastuti, lahir dan besar di Malang dan menyelesaikan sarjananya di ITS Surabaya. Kami memiliki 2 putri yang cantik-cantik, si sulung Paramestri Anya Rasendriya duduk di bangku TK A dan si kecil Pradnayestri Illina Lalitaditya baru berumur 1.5 tahun. Saat ini kami tinggal di Perum Pamulang Elok Blok O2 No. 6 Pondok Petir, Sawangan Depok.

Kami bukan keturunan pengusaha, tapi kami yakin bahwa usaha yang kami rintis akan berhasil asalkan kami punya kemauan besar, ketekunan dan keuletan. Kami selalu yakin dan optimis bahwa usaha apapun apabila ditekuni dan dikerjakan dengan baik dan benar akan menghasilkan sesuatu yang baik dan benar pula.

Mungkin ini sekelumit dari kami, motivasi terkuat dalam diri kami adalah anak-anak kami. Karena merekalah kami “nekat” membuka usaha ini dan karena mereka pula kami tetap dan selalu semangat menyongsong hidup dan masa depan.

In the office, May 03, 2008

13.32 WIB

3 comments 3 Juni 2008

Bung Karno #2

“karmane, fadikaratse, mappalessu, kadyatna”

Laksanakan tugasmu dengan sebaik-baiknya, serela-relanya, seikhlas-ikhlasnya. Sebab jika engkau tidak memetik buahnya maka anakmu yang akan memetiknya. Jika bukan anakmu yang memetik PASTI cucumu yang akan memetiknya.

Add comment 30 Mei 2008

Bung Karno #1

Tidak seorangpun yang menghitung-hitung, berapa untung yang kudapat nanti dari republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”

Add comment 30 Mei 2008

Suatu Pengantar: Cwi Mie Malang

Sejak kami di Jakarta sekitar tahun 2001 -lebih tepatnya di Bekasi Barat, kami belum pernah menemukan warung atau restoran yang ada cwi mie Malang. “Dimana ya Yah, saya bisa makan cwi mie?” begitu kata istri saya. Pernah suatu hari kami tahu ada restoran cwi mie, istri saya langsung kepingin ‘ncoba’. Mungkin istri saya kangen sama cwi mie Malang karena memang istri saya dari Sawojajar Malang. Dan kebetulan istri saya maniak cwi mie malang (maniak juga diajak makan-makan enak, hehehe….). “Gak enak Yah..!” kata istri saya setelah mampir di restoran itu. Ini artinya istri saya tidak akan pernah mau diajak ke situ lagi, padahal saya suka nasi goreng’nya.
Dan begitulah, beberapa restoran cwi mie di Jakarta dicoba, istri saya selalu bilang kurang pas.

“Kapan kita bisa buat sendiri restoran Cwi Mie ya Yah?” kata istri saya suatu saat. “Secepatnya, tapi aku gak suka kalau main-main, apalagi rasa Cwi Mie’nya gak enak tidak seperti aslinya” begitu kata saya.

Sekitar April 2008 kemarin, Alhamdulillah kami bisa buka restoran Pangsit Cwi Mie ‘Tugu’ Malang di Pamulang. Dan sampai sekarang, Alhamdulillah sudah punya pelanggan tetap dan ’segudang pujian’ dari pelanggan (meskipun saya tidak suka).

Sementara, kami punya 3 karyawan, salah satunya adalah saudara saya yang punya pengalaman sebagai koki restoran & hotel. Dari sini, akhirnya Menu di restoran saya ada tambahan menu-menu, diantaranya: Sirloin Steak, Rib Eye Steak, Chop Steak, Udang Goreng Tepung, Cumi Goreng Tepung.

Untuk ke depan, kami akan senantiasa menambahkan menu-menu lain yang belum ada di restoran di Pamulang. Dalam waktu dekat, kami akan menambahkan menu Bakso Malang dan Nasi Goreng ala Tugu.

3 comments 30 Mei 2008


Kategori

Arsip

Blog Stats

Photos

The Lower Falls - Yosemite Falls, Yosemite National Park, California

264/CDSPY2 - {a Bert in the hand is worth two on the (sesame) street}

Blue Moon, The Sea and Vesuvius

More Photos

 

Juli 2009
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Meta