Archive for Juni, 2008

STIKER-STIKER TELAH MENEMPEL DI KEPALA KITA

Sudah tidak asing lagi bagi mata kita terutama bagi para pemakai jalan, stiker yang sengaja dipasang di setiap bagian belakang ekor motor atau bagian belakang mobil. “lo senggol, lo benjol”; “lo asyik gue santai, lo usik gue bantai”; “motor lo jelek, bagusan motor gue”; “yang di belakang kaya (gambar monyet)”; “apa lo liat, ntar lo embat”, dan lainnya masih banyak lagi.

Saya selalu heran dan sempat berpikir, siapa orangnya dibalik produksi stiker seperti ini. Tapi buru-buru saya ralat, bisa jadi yang beli stiker ini yang salah atau ada pihak lain?

Problematika hidup yang makin lama makin ruwet dengan tidak sadar telah memaksa kita mencari jalan ‘aman’ dan yakin bahwa urusan pribadi adalah mendesak. Ditambah pula dengan ketidakpercayaan terhadap pembuat kebijakan, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa pembuat kebijakan tidak ada yang memihak rakyat banyak. Kebijakan BLT, kenaikan BBM, busway, sampai gembok mobil yang parkir sembarangan.

Rakyat telah apatis, egois, tidak mau bilang orang lain benar, stres terhadap kondisi sulit, menjadi brutal, sinis, gampang ‘muak’. Ataukah rakyat dendam? Tapi dendam dengan siapa?

Dan kemunculan stiker itu adalah simbol atau ungkapan ekspresi kekecewaan dan kesulitan. Bisa jadi sudah memenuhi kepala semua orang termasuk orang-orang yang hilir mudik di jalan. Sementara itu hidup harus dijalani.

Sementara itu ada stiker lebih parah yang pernah saya baca menempel di motor sewaktu saya naik motor di Tanah Abang, “Ya Allah cabutlah nyawa yang baca ini”. Astaghfirullah hal’adzim.

Jakarta, 8 Juni 2008

Add comment 9 Juni 2008

TELEVISI: PENJAJAH MODERN

Pada era tahun 80an, masih teringat di memori kita, betapa susahnya mau menonton televisi. Tidak semua orang punya televisi, apalagi di sebuah kampung kecil yang jauh dari kota. Televisi masih dikatakan menjadi simbol orang mapan. Kalaupun sudah didapat, paling-paling hanya TVRI, tidak ada channel lain. Dan menginjak tahun 90an, televisi swasta mulai bermunculan. Entah ini bisa dikatakan sebagai tanda bahwa ekonomi sudah berkembang ataukah memang semata alami bahwa kita sudah mulai masuk dalam lingkaran liberalisme & kapitalis.

Dan mulai dari sinilah, secara tidak sadar kita mulai menjalani budaya ‘aneh’ (kalau tidak mau disebut budaya asing). Pelan-pelan, kita menjadi egois, gotong royong luntur, tegur sapa antar kita jarang. Kita seperti badut, yang gampang gonta-ganti baju tapi bukan baju kita sendiri. Bagi orang desa, ibarat naik tangga, dari tangga satu mestinya naik tangga dua, tidak langsung tangga lima. Ini salah besar. Lompatan budaya telah terjadi. Orang desa yang biasa memakai kain ‘kemben’ atau baju panjang, tiba-tiba harus disuruh memakai baju ketat ‘pusar kelihatan’. Orang-orang biasa ‘nerimo ing pandum’ tiba-tiba diajari taktik dan intrik meski dalam keluarga sendiri.

“Televisi lebih kejam daripada penjajah”. Barangkali itulah kalimat yang pantas dari artikel kecil ini, dan sekaligus menggarisbawahi fenomena televisi yang semakin lama membenamkan kita secara tidak sadar pada pola hidup yang ‘ngambang’ dan tidak punya eksistensi.

Televisi telah menjadi doktrin yang secara tidak sengaja nyangkut di alam bawah sadar kita dan membentuk pola fikir kita menjadi tidak sabar, egois, matrialis, ekstrim, kriminal, dan seterusnya. Televisi telah menciptakan parameter norma dan etika sendiri, tidak berdasarkan norma budaya timur seperti waktu kita masih kecil dulu. Televisi telah menjadi doktrin yang berbahaya dan kejam melebihi jaman penjajahan dulu. Kejam menghajar pikiran dan hati kita, dan lebih kejam daripada muka berdarah-darah yang dihantam popor senapan Belanda.

Untuk masa sekarang ini, peranan televisi di masyarakat sesungguhnya bisa dibilang kurang. Apalagi yang menyangkut sebagai alat perekat bangsa, bicara nasionalisme, peduli anak bangsa, dan seterusnya. Kita mestinya prihatin.

‘Okelah’ yang menentukan kebijakan itu adalah ‘permainan cantik’ pemerintah dan pemodal, dan kita jelas tidak bisa mencegah jika mereka salah, tapi keputusan mestinya tetap pada pihak kita, kita yang harus menyaring media itu.

Bagaimana kita? (apa kita kalah dengan produser sinetron yang banyak orang India itu?)

Jakarta, 8 Juni 2008

2 comments 9 Juni 2008

Tak Kenal Maka Tak Sayang………..

Tak Kenal Maka Tak Sayang, pepatah itu rasanya pas buat kami yang baru saja mengenalkan warung Pangsit Cwimie Tugu. Kami ingin mengenalkan lebih jauh warung kami yang terletak di daerah Pamulang, tepatnya di Jl. Setiabudi (dekat pintu masuk perumahan MA) Pamulang, khususnya mengenalkan diri kami sebagai pemilik sekaligus pengelola warung tersebut.

Seperti yang telah diuraikan di pengantar, warung kami berdiri 14 April 2008. Dengan modal nekat ala Jawa Timur-an kami membuka usaha ini dengan harapan akan menjadi besar, memberikan banyak peluang kerja dan yang terpenting bekal buat anak cucu kami kelak.

Kami adalah sepasang Suami Istri dari Jawa Timur, saya Hudiono, lahir dan besar di Lamongan dan menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Jember. Istri saya, Sapta Juliastuti, lahir dan besar di Malang dan menyelesaikan sarjananya di ITS Surabaya. Kami memiliki 2 putri yang cantik-cantik, si sulung Paramestri Anya Rasendriya duduk di bangku TK A dan si kecil Pradnayestri Illina Lalitaditya baru berumur 1.5 tahun. Saat ini kami tinggal di Perum Pamulang Elok Blok O2 No. 6 Pondok Petir, Sawangan Depok.

Kami bukan keturunan pengusaha, tapi kami yakin bahwa usaha yang kami rintis akan berhasil asalkan kami punya kemauan besar, ketekunan dan keuletan. Kami selalu yakin dan optimis bahwa usaha apapun apabila ditekuni dan dikerjakan dengan baik dan benar akan menghasilkan sesuatu yang baik dan benar pula.

Mungkin ini sekelumit dari kami, motivasi terkuat dalam diri kami adalah anak-anak kami. Karena merekalah kami “nekat” membuka usaha ini dan karena mereka pula kami tetap dan selalu semangat menyongsong hidup dan masa depan.

In the office, May 03, 2008

13.32 WIB

3 comments 3 Juni 2008


Kategori

Arsip

Blog Stats

Photos

Noviembre

Hairy mute - Explored Front Page!

Loch Lomond

More Photos

 

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Meta