STIKER-STIKER TELAH MENEMPEL DI KEPALA KITA
9 Juni 2008
Sudah tidak asing lagi bagi mata kita terutama bagi para pemakai jalan, stiker yang sengaja dipasang di setiap bagian belakang ekor motor atau bagian belakang mobil. “lo senggol, lo benjol”; “lo asyik gue santai, lo usik gue bantai”; “motor lo jelek, bagusan motor gue”; “yang di belakang kaya (gambar monyet)”; “apa lo liat, ntar lo embat”, dan lainnya masih banyak lagi.
Saya selalu heran dan sempat berpikir, siapa orangnya dibalik produksi stiker seperti ini. Tapi buru-buru saya ralat, bisa jadi yang beli stiker ini yang salah atau ada pihak lain?
Problematika hidup yang makin lama makin ruwet dengan tidak sadar telah memaksa kita mencari jalan ‘aman’ dan yakin bahwa urusan pribadi adalah mendesak. Ditambah pula dengan ketidakpercayaan terhadap pembuat kebijakan, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa pembuat kebijakan tidak ada yang memihak rakyat banyak. Kebijakan BLT, kenaikan BBM, busway, sampai gembok mobil yang parkir sembarangan.
Rakyat telah apatis, egois, tidak mau bilang orang lain benar, stres terhadap kondisi sulit, menjadi brutal, sinis, gampang ‘muak’. Ataukah rakyat dendam? Tapi dendam dengan siapa?
Dan kemunculan stiker itu adalah simbol atau ungkapan ekspresi kekecewaan dan kesulitan. Bisa jadi sudah memenuhi kepala semua orang termasuk orang-orang yang hilir mudik di jalan. Sementara itu hidup harus dijalani.
Sementara itu ada stiker lebih parah yang pernah saya baca menempel di motor sewaktu saya naik motor di Tanah Abang, “Ya Allah cabutlah nyawa yang baca ini”. Astaghfirullah hal’adzim.
Jakarta, 8 Juni 2008
Entry Filed under: Artikel. .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed