TELEVISI: PENJAJAH MODERN
9 Juni 2008
Pada era tahun 80an, masih teringat di memori kita, betapa susahnya mau menonton televisi. Tidak semua orang punya televisi, apalagi di sebuah kampung kecil yang jauh dari kota. Televisi masih dikatakan menjadi simbol orang mapan. Kalaupun sudah didapat, paling-paling hanya TVRI, tidak ada channel lain. Dan menginjak tahun 90an, televisi swasta mulai bermunculan. Entah ini bisa dikatakan sebagai tanda bahwa ekonomi sudah berkembang ataukah memang semata alami bahwa kita sudah mulai masuk dalam lingkaran liberalisme & kapitalis.
Dan mulai dari sinilah, secara tidak sadar kita mulai menjalani budaya ‘aneh’ (kalau tidak mau disebut budaya asing). Pelan-pelan, kita menjadi egois, gotong royong luntur, tegur sapa antar kita jarang. Kita seperti badut, yang gampang gonta-ganti baju tapi bukan baju kita sendiri. Bagi orang desa, ibarat naik tangga, dari tangga satu mestinya naik tangga dua, tidak langsung tangga lima. Ini salah besar. Lompatan budaya telah terjadi. Orang desa yang biasa memakai kain ‘kemben’ atau baju panjang, tiba-tiba harus disuruh memakai baju ketat ‘pusar kelihatan’. Orang-orang biasa ‘nerimo ing pandum’ tiba-tiba diajari taktik dan intrik meski dalam keluarga sendiri.
“Televisi lebih kejam daripada penjajah”. Barangkali itulah kalimat yang pantas dari artikel kecil ini, dan sekaligus menggarisbawahi fenomena televisi yang semakin lama membenamkan kita secara tidak sadar pada pola hidup yang ‘ngambang’ dan tidak punya eksistensi.
Televisi telah menjadi doktrin yang secara tidak sengaja nyangkut di alam bawah sadar kita dan membentuk pola fikir kita menjadi tidak sabar, egois, matrialis, ekstrim, kriminal, dan seterusnya. Televisi telah menciptakan parameter norma dan etika sendiri, tidak berdasarkan norma budaya timur seperti waktu kita masih kecil dulu. Televisi telah menjadi doktrin yang berbahaya dan kejam melebihi jaman penjajahan dulu. Kejam menghajar pikiran dan hati kita, dan lebih kejam daripada muka berdarah-darah yang dihantam popor senapan Belanda.
Untuk masa sekarang ini, peranan televisi di masyarakat sesungguhnya bisa dibilang kurang. Apalagi yang menyangkut sebagai alat perekat bangsa, bicara nasionalisme, peduli anak bangsa, dan seterusnya. Kita mestinya prihatin.
‘Okelah’ yang menentukan kebijakan itu adalah ‘permainan cantik’ pemerintah dan pemodal, dan kita jelas tidak bisa mencegah jika mereka salah, tapi keputusan mestinya tetap pada pihak kita, kita yang harus menyaring media itu.
Bagaimana kita? (apa kita kalah dengan produser sinetron yang banyak orang India itu?)
Jakarta, 8 Juni 2008
Entry Filed under: Artikel. .
2 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
telunjuk | 9 Juni 2008 at 8:18 pm
Yaaaa … begitulah mas, dominasi simancung-item dari tanah hindustan yang selalu memproduksi sinetron yang nggak masuk akal dan selalu mengangkat nilai2 matrek … rumah megah, mobil mewah, dandanan wah, rebutan warisan, saling jegal rebutan harta perusahaan, lemahnya institusi hukum yg bisa dibeli dengan uang dst … dst …
Cerita seperti itu nyaris paling banyak diproduksi dari India dengan film2 yang sempat marak diputar di salah satu tv swasta dengan kedok tv pendidikan. Saat ini tidak hanya filmnya, produsernya pun ada disini dan sayangnya sangat produktif.
KPI sendiri sebagai sebuah badan filter juga tidak banyak berbuat. e tanya kenapa!
Tiap hari kita dicekoki tayangan tv tetang kehidupan sosial yang sudah nyasar, kekerasan dengan topeng “news”, film2 barat dengan batasan kesopanan yang tipis dst .. dst
tragis … tv bagaikan telunjuk, antara mencerahkan dan menyesatkan
2. Media Cuci Otak, Media Pembodohan Massal, Penyebar Fitnah dan Racun Paling Berbahaya Saat ini Bernama Televisi « LAWAN ARUS | 16 November 2008 at 11:20 pm
[...] TELEVISI: PENJAJAH MODERN Televisi telah memosisikan diri sebagai lembaga perayu penebar budaya pragmtis serta cenderung menawarkan kepentingan hedonistik. Dalam berbagai tayangan acaranya; baik itu yang bersifat berita, hiburan, serta talkshow, bahkan dialog politik, dipoles secara retorik yang bertujuan untuk menyerap simpati massa yang tanpa dibarengi dengan kearifan ataupun modal kecerdasan politik. Tak sedikit justru menghasilkan hal-hal yang kontra-produktif. [...]